Banyak ayat-ayat dalam al-Qur’anul Kariim dan as-Sunnah yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah jalla wa’ala itu ada di langit, Dia berada di atas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat yang menggunakan kata -kata bersemayam. Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa perkataan ahlu bid’ah yang menyatakan Allah itu berada dimana-mana, Allah itu ada dalam hati (diri) hambanya (karena Allah sangat dekat dengan hambanya) dan semisalnya adalah hal yang sangat bathil (karena sesungguhnya mereka menta’wilkan hadits atau ayat dalam al-Qur’an yang berbicara tentang keberadaan Alloh ta’ala menurut hawa nafsu mereka).
Dalam sebuah riwayat yang shohih dari beliau Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana sabda beliau Shalallahu ‘alayhi wa sallam (Artinya) : “Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit“. [Bukhari no. 4351 kitabul Maghazi ;Muslim no.1064 Kitabuz Zakat].
Demikianlah yang terdapat dalam al-Qur’an, Allon ta’ala berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy” [Surat Al A’raf:54]
Pada ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan ‘bersemayam” menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy sesuai dengan keagungan Allah. Tidak ada yang dapat mengetahui BAGAIMANA bersemayamnya itu, seperti dikatakan oleh Imam Malik rahimahulloh ketika ditanya tentang makna istiwa` dalam firman Allah:
الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى
“Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5). Beliau menjawab: “Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; BERIMAN dengannya adalah WAJIB, dan BERTANYA tentangnya (tentang kaifiyah) adalah BID’AH. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.”” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)
Filed under: AQIDAH
